Pengertian HIV/AIDS

HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yang artinya adalah virus yang menyerang daya tahan tubuh manusia, sehingga system kekebalan tubuh manusia dapat menurun tajam bahkan hingga tidak berfungsi sama sekali.

AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immunodeficiency Syndrome yang berarti sekumpulan gejala dan penyakit infeksi yang timbul karena menurunnya atau rusaknya system kekebalan tubuh seseorang.

Rata-rata perkembangan infeksi HIV menjadi AIDS adalah 2 – 10 tahun. Dan rata-rata waktu hidup setelah mengalami AIDS hanya sekitar 9,2 bulan. Namun demikian, laju perkembangan penyakit ini pada setiap orang bervariasi. Faktor yang mempengaruhinya adalah daya tahan tubuh untuk melawan HIV (seperti fungsi kekebalan tubuh) dari orang yang terinfeksi.

Penyebaran Virus HIV

Virus HIV dapat ditularkan melalui darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal dan juga air susu ibu.

Penularan virus HIV terjadi melalui :

  • Hubungan intim (vaginal, oral ataupun anal) dengan pengidap HIV tanpa menggunakan pengaman (kondom).
  • Transfusi darah atau organ tubuh dari seseorang yang terinfeksi virus HIV/AIDS.
  • Jarum suntik atau alat tindik yang terkontaminasi.
  • Antara ibu dan bayi selama kehamilan bersalin atau menyusui.
  • Kekerasan seksual, hal ini terjadi karena pelindung tidak digunakan dan terjadi trauma fisik.

Urin dan isi saluran cerna tidak dianggap sebagai sumber penularan kecuali apabila jelas tampak mengandung darah. Air mata, air liur, dan keringat mungkin mengandung virus, tetapi jumlahnya diperkirakan terlalu rendah untuk menimbulkan infeksi.

Seseorang tidak dapat terinfeksi virus HIV/AIDS dengan :

1.berjabat tangan

2.berbagai alat potong

3.berpelukan

4.minum dari mata air

5.menggunakan gelas yang sama

6.berteman dengan penderita

7.bermain bersama

8.belajar bersama

Gejala-gejala HIV/AIDS

Seperti yang telah disebutkan pada pengertian HIV/AIDS bahwa rata-rata perkembangan infeksi virus HIV menjadi AIDS adalah 2-10 tahun. Pada saat seseorang tersebut tidak menunjukkan gejala apapun dan merasa sehat-sehat saja. Bahkan seseorang tersebut tidak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi virus HIV.

Setelah 2-10 tahun terinfeksi barulah timbul gejala-gejala infeksi, misalnya infeksi jamur oportunistik atau timbulnya herpes zoster (cacar ular). Hal ini disebabkan karena jumlah sel T4 seseorang menurun dari sekitar 1000 sel per ml darah sebelum terinfeksi hingga 200 sampai 300 per ml darah setelah terinfeksi.

Namun pada kasus seseorang tersebut telah menderita AIDS, maka terjadi gejala-gejala :

1.Demam serta berkeringat terutama pada malam hari.

2.Pembengkakan kelenjar (alat kelamin)

3.Kedinginan.

4.Rasa lelah berkepanjangan.

5.Nyeri badan

6.Penurunan berat badan secara drastic.

7.Sesak nafas dan batuk berkepanjangan.

8.Diare berkepanjangan.

9.Timbul bercak merah kebiru-biruan pada kulit.

10.Menurunnya kesadaran penderita.

Tahapan HIV/AIDS

Pada tahun 1990, World Health Organization (WHO) mengelompokkan berbagai infeksi dan kondisi AIDS dengan memperkenalkan system tahapan untuk pasien yang terinfeksi HIV.

Tahapan tersebut adalah sebagai berikut :

1.Stadium I

Penyakit HIV tidak menunjukkan gejala apapun dan tidak dikategorikan sebagai AIDS.

2.Stadium II

Meliputi manifestasi mucocutaneus minor dan infeksi-infeksi saluran pernafasan bagian atas yang tidak sembuh-sembuh.

3.Stadium III

Meliputi diare kronik yang tidak jelas penyebabnya yang berlangsung lebih dari satu bulan, infeksi bakteri yang parah, dan TBC paru-paru.

4.Stadium IV

Meliputi Toksoplasmosis pada otak, kandidiasis pada saluran tenggorok (oesophagus), saluran pernafasan (trachea), batang saluran paru-paru (bronchi) atau paru-paru dan sarcoma Kaposi. Penyakit HIV digunakan sebagai indicator AIDS.

Upaya Pencegahan HIV/AIDS

Sampai saat ini belum ada penyembuhan bagi AIDS, sehingga pencegahan infeksi HIV perlu dilakukan. Pencegahan berarti tidak berkontak dengan cairan tubuh yang tercemar HIV.

Maka dari itu upaya pencegahannya adalah seseorang harus :

  1. Melakukan abstinensi seks atau hubungan kelamin monogamy bersama dengan pasangan yang tidak terinfeksi.
  2. Diperiksa untuk mengetahui ada tidaknya virus paling sedikit 6 bulan setelah hubungan kelamin terakhir yang tidak terlindung, karena pembentukkan antibody mungkin memerlukan waktu paling sedikit 6 bulan setelah terpajan virus HIV.
  3. Menggunakan kondom lateks apabila terjadi hubungan kelamin dengan orang yang status HIVnya tidak diketahui. Walupun dapat secara bermakna mengurangi resiko penularan HIV, kondom lateks tidak dapat menjamin perlindungan 100% terhadap penularan virus.
  4. Tidak melakukan tukar menukar jarum suntik dengan siapapun untuk alasan apapun.
  5. Mencegah infeksi janin atau bayi baru lahir. Apabila wanita hamil positif HIVnya, maka obat-obat atau antibody anti HIV dapat diberikan selama kehamilan dan kepada bayinya setelah lahir. Ibu yang terinfeksi jangan menyusui bayinya. Pompa payudara jangan ditukarpakaikan.
  6. Serta yang paling penting adalah dengan spiritual. Meningkatkan keimanan diri kepada Tuhan agar tidak terjerumus kedalam pergaulan bebas.

Pemeriksaan Penunjang

Diagnosis laboratorium dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu :

  1. Cara langsung, yaitu isolasi virus dari sample. Umumnya dengan menggunakan mikroskop electron dan deteksi antigen virus. Salah satu cara deteksi antigen virus adalah dengan Polymerase Chain Reaction (PCR).
  2. Penggunaan PCR antara lain untuk :
    1. Tes HIV pada bayi karena zat anti dari ibu masih ada pada bayi sehingga menghambat pemeriksaan serologis.
    2. Menetapkan status infeksi pada individu seronegatif.
    3. Tes pada kelompok resiko tinggi sebelum terjadi serokonversi
    4. Tes konfirmasi untuk HIV-2 sebab sensitivitas ELISA untuk HIV-2 rendah.
    5. Cara tidak langsung, yaitu dengan melihat respons zat anti spesifik. Tes, misalnya :
      1. ELISA, sensitivitasnya tinggi (98,1-100%). Biasanya memberikan hasil positif 2-3 bulan sesudah terinfeksi. Hasil positif harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan Western blot.
      2. Western Blot, spesifisitas tinggi (99,6-100%). Namun, pemeriksaan ini cukup sulit, mahal, dan membutuhkan waktu sekitar 24 jam. Mutlak diperlukan untuk konfirmasi hasil pemeriksaan ELISA positif.
      3. Immunofluorescent assay (IFA).
      4. Radioimmunopraecipitation assay (RIPA).

Terapi Untuk Penderita HIV / AIDS

Sampai saat ini belum ditemukan pengobatan yang memungkinkan seseorang sembuh dari infeksi virus HIV. Tetapi pengobatan ini hanya mampu untuk menghambat pertumbuhan virus HIV.

Yaitu dengan :

  1. Obat-obat anti HIV, misalnya azidotimidin (AZT), yang menghambat enzim reverse transcriptase dan tampaknya efektif untuk menurunkan jumlah infeksi yang diidap pasien AIDS.
  2. Pendidikan untuk menghindari alcohol dan obat-obatan serta merokok.
  3. Menghindari infeksi lain, karena infeksi tersebut dapat mengaktifkan sel T dan dapat mempercepat replikasi HIV.
  4. Terapi untuk kanker dan infeksi spesifik apabila penyakit-penyakit tersebut muncul.