A. Pengertian

Kepanjangan narkoba yang tepat adalah narkotika, psikotropika dan bahan adiktif lainnya. Banyak jenis narkotika yang memberi manfaat yang besar bila digunakan dengan baik dan benar dalam bidang kedokteran. Dengan pengertian seperti itu, narkoba jelas tidak selalu berdampak buruk. Karenanya, sikap anti narkoba adalah keliru. Yang benar adalah sikap anti penyalahgunaan narkoba. Jadi, yang kita perangi bukan narkoba, melainkan penyalahgunaannya.

B. Jenis-jenis Narkoba

Narkoba dibagi dalam tiga jenis yaitu narkotika, psikotropika dan bahan adiktif lainnya. Tiap jenis terbagi lagi menjadi beberapa kelompok

Narkotika

Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penururnan atau perubahan kesadaran, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.(UU RI No.22 Tahun 1997 tentang Narkotika)

Penggolongan narkotika:

  1. Narkotika golongan I adalah narkotika yang paling berbahaya karena daya adiktifnya sangat tinggi. Golongan ini tidak boleh digunakan untuk kepentingan apapun, kecuali untuk penelitian atau ilmu pengetahuan. Contoh: ganja, heroin, kokain, opium, morfin.
  2. Narkotika golongan II adalah narkotika yang memiliki daya adiktif kuat tetapi bermanfaat untuk pengobatan dan penelitian. Contoh: pethidin, benzetidin, betametadol.
  3. Narkotika golongan III adalah narkotika yang memiliki daya adiktif ringan dan bermanfaat untuk pengobatan dan penelitian. Contoh: kodein.

Psikotropika

Psikotropika adalah zat atau obat bukan narkotika, baik alamiah maupun sintesis, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada sistem saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.(UU RI No.5 Tahun 1997 tentang Psikotropika)

Penggolongan psikotropika:

  1. Psikotropika golongan I adalah psikotropika dengan daya adiktif yang sangat kuat, belum diketahui manfaatnya dan sedang diteliti khasiatnya untuk pengobatan. Contoh: MDMA (Metil Dioksi Metamfetamin), ekstasi, LCD, STP.
  2. Psikotropika golongan II adalah psikotropika dengan daya adiktif kuat, berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contoh: metamfetamin, amfetamin, metakualon.
  3. Psikotropika golongan III adalah psikotropika dengan daya adiksi sedang serta berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contoh: lumibal, buprenorsina, fleenitrazepam.
  4. Psikotropika golongan IV adalah psikotropika dengan daya adiktif ringan, berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contoh: nitrazepam (BK, mogadon, domulid), diazepam.
  5. Bahan adiktif lainnya

Golongan adiktif lainnya adalah zat-zat selain narkotika dan psikotropika yang dapat menimbulkan ketergantungan. Contohnya:

  1. Rokok
  2. Kelompok alkohol dan minuman lain yang memabukkan dan menimbulkan ketagihan
  3. Thinner, lem kayu, penghapus cair, aseton, cat, bensin, yang bila dihisap, dihirup dan dicium dapat memabukkan.

C. Jenis-jenis Narkoba yang Sering Disalahgunakan

Diantara berbagai jenis narkoba, ada beberapa narkoba yang paling populer dan banyak disalahgunakan yaitu sebagai berikut:

Narkoba dibagi dalam tiga jenis yaitu narkotika, psikotropika dan bahan adiktif lainnya. Tiap jenis terbagi lagi menjadi beberapa kelompok

Narkotika

Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penururnan atau perubahan kesadaran, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.(UU RI No.22 Tahun 1997 tentang Narkotika)

Penggolongan narkotika:

  1. Narkotika golongan I adalah narkotika yang paling berbahaya karena daya adiktifnya sangat tinggi. Golongan ini tidak boleh digunakan untuk kepentingan apapun, kecuali untuk penelitian atau ilmu pengetahuan. Contoh: ganja, heroin, kokain, opium, morfin.
  2. Narkotika golongan II adalah narkotika yang memiliki daya adiktif kuat tetapi bermanfaat untuk pengobatan dan penelitian. Contoh: pethidin, benzetidin, betametadol.
  3. Narkotika golongan III adalah narkotika yang memiliki daya adiktif ringan dan bermanfaat untuk pengobatan dan penelitian. Contoh: kodein.

Psikotropika

Psikotropika adalah zat atau obat bukan narkotika, baik alamiah maupun sintesis, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada sistem saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.(UU RI No.5 Tahun 1997 tentang Psikotropika)

Penggolongan psikotropika:

  1. Psikotropika golongan I adalah psikotropika dengan daya adiktif yang sangat kuat, belum diketahui manfaatnya dan sedang diteliti khasiatnya untuk pengobatan. Contoh: MDMA (Metil Dioksi Metamfetamin), ekstasi, LCD, STP.
  2. Psikotropika golongan II adalah psikotropika dengan daya adiktif kuat, berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contoh: metamfetamin, amfetamin, metakualon.
  3. Psikotropika golongan III adalah psikotropika dengan daya adiksi sedang serta berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contoh: lumibal, buprenorsina, fleenitrazepam.
  4. Psikotropika golongan IV adalah psikotropika dengan daya adiktif ringan, berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contoh: nitrazepam (BK, mogadon, domulid), diazepam.
  5. Bahan adiktif lainnya

Golongan adiktif lainnya adalah zat-zat selain narkotika dan psikotropika yang dapat menimbulkan ketergantungan. Contohnya:

  1. Rokok
  2. Kelompok alkohol dan minuman lain yang memabukkan dan menimbulkan ketagihan
  3. Thinner, lem kayu, penghapus cair, aseton, cat, bensin, yang bila dihisap, dihirup dan dicium dapat memabukkan.

1. Ganja

Nama lainnya adalah Canabis indica. Nama sebutan ganja dalam pergaulan di lingkungan bandar dan pemakai adalah cimeng, mariyuana, rumput, bunga, ikat, labang atau jayus. Ganja merupakan tanaman perdu yang berdaun banyak, berbentuk mirip dengan daun singkong, berjari ganjil, dengan pinggiran agak bergerigi dan berbulu. Di beberapa daerah, daunnya sering digunakan sebagai bumbu penyedap masakan. Sebagai penyedap masakan, efek adiktif (ketagihan) dan mengantuknya tidak terlalu kuat. Zat aktif dari ganja adalah THC (Tetra Hydro Cannabinol) yang banyak terdapat di daun, batang dan bunga. Bila daun ganja dikeringkan, efek dari zat aktif ini lebih besar. Bentuk ganja yang biasa dipakai:

  1. Terbanyak: daun kering sebagai “tembakau”
  2. Budha stick, dibentuk jadi batang
  3. Minyak ganja (hasis)

Reaksi : tenang, rileks, lupa masalah-masalah yang pelik, mengantuk, logika berfikir berkurang sehingga mudah diajak melakukan hal-hal buruk seperti mencuri, melacur, berkelahi dan lain –lain. Efek lainnya adalah makan dengan lahap, bengong, halusinasi.

Overdosis : bila dosis pemakaian terlalu banyak, akibatnya adalah sangat mengantuk sampai tertidur, pupil mengecil, denyut nadi dan kesadaran turun, pingsan, meninggal.

Sakaw : bila pecandu dipaksa berhenti memakai ganja, ia akan mengalami sakaw atau withdrawal effect. Gejalanya adalah keluar keringat dingin, pikiran kacau, mudah tersinggung, pupil melebar, jantung berdebar, sulit tidur dan hilang nafsu makan.

2. Obat (Psikotropika)

Di kalangan pemakai, istilah “OBAT” atau “BOAT” sangat populer. Kata obat diperuntukkan bagi obat-obatan medis yang tergolong psikotropika dan neuroleptika yang banyak digunakan oleh dokter untuk mengobati gangguan jiwa dan saraf.

Psikotropika dan neuroleptika yang sering disalahgunakan adalah

Tranquilizer mayor=Neuroleptikum

Dalam dunia kedokteran, obat ini digunakan untuk mengobati kecemasan, ketegangan atau kegelisahan. Obat ini biasanya disalahgunakan oleh orang yang tidak sakit untuk mendapatkan ketenangan jiwa. Efek sampingnya, orang jadi teler, tertidur, perhitungan sering meleset, kesadaran menurun sehingga sering bertindak ngawur, dapat berubah menjadi sakit dan kejam. Contoh: anatensol, stelazine, haldol, serenace

Antidepresan

Dalam dunia kedokteran, obat ini digunakan untuk mengobati rasa tertekan (depresi). Tanda pemakaian: bicara kacau, pengendalian diri hilang, seperti mabuk tapi tidak berbau alkohol. Overdosis: nafas pendek, kulit dingin, pupil melebar, koma. Sakaw: gelisah, sukar tidur, tertawa tidak wajar. Contoh: anafrinie, herzox, prozac, zolof

Stimulansia (perangsang saraf pusat atau simpatometik)

Obat ini menghilangkan rasa lapar, lelah, sedih, mengantuk, tertekan, depresi dan dapat meningkatkan aktivitas. Overdosis: gelisah, suhu tubuh naik, tertawa tidak wajar, berkhayal. Sakaw: lesu, tidur lama, cepat marah, depresi. Contoh: amfetamin

Hipnotika (obat tidur)

Contoh: halcion, BK, golongan benzodiazepin (dumolid, mogadon), golongan fenotiazin ( malleryl, fenergan), esilgan.

Penenang (Tranquilizer minor)

Contoh: ativan, aurorix, frisum

3. Ekstasi

Ekstasi merupakan psikotropika yang bentuk dan warnanya bermacam-macam. Ada yang berbentuk bulat, lonjong, wajik, segitiga, jambu, jeruk dan lain-lain. Tablet ini tidak digunakan dalam bidang kedokteran. Ekstasi diproduksi oleh pabrik gelap khusus untuk disalahgunakan, yaitu untuk mendapatkan efek gembira, hilangnya rasa sedih, hilangnya rasa kecewa, hilangnya rasa marah, tubuh terasa fit dan segar. Daya adiktif obat ini cukup tinggi.

a. Cara pakai: biasanya diminum dengan air mineral. Di pasaran, ekstasi dijual dengan nama sandi INEX, XTC, Leon, kancing, benik, venus, biskuit, tango, pinx lady, melon dan lain-lain.

b.  Isinya: Metil Dioksimetamfetamin (MDMA)

c.  Reaksi: bila sedang ON atau mengalami reaksi, pemakai merasa gembira berlebihan (euforia), hilang rasa sedih, hilang rasa malu, hilang rasa lapar, pusing dan  kantuk. Pemakai akan merasa fit, sehat dan kuat.

d. Overdosis: hipertensi (TD naik), hipertermia (merasa panas), jantung berdebar, denyut nadi naik, dada terasa sakit, pupil melebar, tidak dapat tidur, sekarat akhirnya meninggal.

e.  Sakaw: bila kebiasaan memakai ekstasi dihentikan maka akan timbul reaksi putus zat. Reaksi putus zat berupa perasaan lemah, letih, lesu, sedih, sunyi, hampa, merasa tidak berguna, putus asa kemudian bunuh diri.

4. Shabu

Banyak orang yang menyebutnya shabu-shabu, SS, sasa, coconut, crystal atau gold river. Shabu tergolong psikotropika stimulan. Shabu berbentuk bubuk mengkilat seperti kristal mirip garam dapur. Shabu berisi metamfetamin yang dicampur dengan berbagai psikotropika. Shabu tidak digunakan dalam dunia kedokteran karena tidak berguna dalam pengobatan.

  1. Cara pakai: dengan ngebong, yaitu bubuk dibakar di atas kertas timah. Asapnya ditampung melalui corong dan masuk ke pipa/ selang/ sedotan dan dialirkan ke botol, lalu dihisap atau dihirup dengan hidung.
  2. Reaksi: euforia yang lebih hebat dari amfetamin, hilang rasa duka, hilang rasa kesal, hilang malu, hilang lapar, hilang kantuk, hilang rasa capek, badan terasa segar, fit dan energik. Efek negatif: paranoid, ketakutan, sulit konsentrasi, ketagihan. Narkoba ini sering dipakai oleh para seniman, pelawak, artis, penyanyi, pelukis, para eksekutif, profesional, mahasiswa, pelajar dan ibu-ibu untuk menambah rasa percaya diri dan meningkatkan kinerja kerja.
  3. Overdosis: gelisah, ketakutan, badan terasa seperti terbakar,kepela pusing, leher seperti dicekik, dada sakit, jantung berdebar, nafas sesak, kejang, pupil lebar, mual, muntah, sekarat lalu meninggal.
  4. Sakaw: bila kebiasaan memakai ekstasi dihentikan maka akan timbul reaksi putus zat. Reaksi putus zat berupa perasaan rendah diri, sangat sedih, hampa, sepi, malu, mengantuk, lemas, badan dingin, pupil mengecil, TD menurun, pingsan, putus asa lalu bunuh diri.

Pemakai shabu/ ekstasi yang kronis tampak kurus, lusuh, selalu merasa haus, mata merah, malas mandi, emosi labil, dan sering bangun kesiangan. Bila sedang memakai, mereka tampil energik (biasanya artis, pelawak dan penyanyi), selalu bergerak, sering minum karena selalu haus. Bila sedang tidak memakai, fisik tampak lemah, lesu dan loyo.

5. Putaw

Putaw berbentuk seperti bubuk atau puyer. Bentuk seperti ini sering diberi nama PT, pete, etep, putih atau bedak. Bubuk ini tampak agak kotor seperti tepung terigu. Isinya adalah heroin.  Putaw tidak digunakan dalam bidang kedokteran karena tingkat adiksinya sangat tinggi dan belum dapat diobati. Putaw biasanya dibungkus dengan kertas sebesar ujung jari yang disebut “pahe” atau “paket hemat” seberat 0,1 gram atau 1 gauw.

  1. Cara pemakaian: yang paling berbahaya dan sering dilakukan karena efeknya paling cepat terasa adalah dengan dilarutkan dalam air kemudian disuntikkan ke pembuluh darah. Cara ini juga hemat karena dengan dosis rendah saja sudah bereaksi. Cara lainnya adalah dengan melukai atau menyayat bagian tubuh tertentu (tangan, kaki, penis, vagina, lidah dan lain-lain), kemudian menaburkan bubuk putaw ke luka yang berdarah tadi. Putaw dapat juga digunakan dengan cara diminum langsung tapi reaksinya kecil.
  2. Reaksi: tenang, tenteram, damai, rileks, bebas dari rasa sakit, bebas dari rasa sedih, kesal, marah, jengkel dan pusing hilang.
  3. Overdosis: gelisah, panik, sangat ketakutan, keringat dingin, ngantuk berat, pupil mengecil, dingin, TD menurun, pucat, sesak nafas, jantung melemah, denyut nadi menurun, sakit kepala, sekarat kemudian meninggal.
  4. Sakaw:  bila kebiasaan memakai ekstasi dihentikan maka akan timbul reaksi putus zat. Gejalanya adalah perasaan gelisah, khawatir, takut, keluar air mata, air liur, ingus, kejang otot lambung, kejang otot tubuh, mual, muntah, panas, TD naik, sakit kepala, nyeri tulang dan sendi, jantung berdebar.

Ciri umum orang yang sudah terbiasa dan sedang menggunakan putaw adalah mata sayu, kelopak mata terkesan lelah (jatuh), muka pucat, tenang, mengantuk, bicara cadel, pemalu, pendiam, sulit bergaul, biasanya berbadan kurus dan tampak lusuh. Ada bekas sayatan di pergelangan tangan, kaki, lidah, payudara atau kemaluan. Pemakai putaw yang sedang tidak menggunakan tampak gelisah, rendah diri, menghindar dari pergaulan. Pemakai sering kali tampak seperti orang pilek

.

THREE IN ONE: MULTIPLE DRUGS

Pemakai narkoba biasanya tidak hanya memakai satu macam narkoba saja. Setelah berpengalaman memakai satu jenis narkoba, mereka biasanya menambah satu jenis lagi, demikian seterusnya sampai dalam satu waktu mereka dapat memakai tiga atau empat macam narkoba dalam waktu yang sama. Hal ini disebut three in one. Kombinasi pemakaian terbanyak adalah: ganja, kemudian ekstasi lalu putaw bersama ganja, kokain dan morfin. Pemakai seperti ini tidak memiliki gejala khusus karena gejala yang timbul bercampur-baur. Pemakai ini sering mengalami penyakit-penyakit berbahaya dan gangguan mental serius sehingga cepat meninggal atau gila.

D. Dampak Negatif Penyalahgunaan Narkoba

Sebelum membahas tentang dampak negatif penyalahgunaan narkoba, ada baiknya kita mengetahui tiga sifat khas pada narkoba yang sangat berbahaya, yaitu:

  1. Habitual: sifat pada narkoba yang membuat pemakainya akan selalu teringat, terkenang dan terbayang sehingga cenderung untuk selalu mencari dan rindu (seeking). Sifat inilah yang membuat pemakai narkoba yang sudah sembuh kelak bisa kambuh (relaps) dan memakai kembali. Perasaan sangat rindu ingin memakai kembali disebabkan oleh kesan kenikmatan yang dalam bahasa gaul disebut “nagih” atau “suggest”.
  2. Adiktif: sifat narkoba yang membuat pemakainya terpaksa memakai terus dan tidak dapat menghentikannya. Penghentian atau pengurangan pemakaian narkoba akan menimbulkan efek putus zat atau “withdrawal effect”, yaitu perasaan sakit luar biasa atau dalam bahasa gaul disebut sakaw.
  3. Intoleran: sifat narkoba yang membuat tubuh pemakainya semakin lama semakin menyatu dengan narkoba dan menyesuaikan diri dengan narkoba itu sehingga menuntut dosis pemakaian semakin tinggi

.

Dampak negatif akibat penyalahgunaan narkoba:

  1. Dampak terhadap fisik

Pemakai narkoba dapat mengalami kerusakan organ tubuh dan menderita penyakit sebagai berikut:

  1. Kerusakan pada otak: penyakitnya dapat berupa stroke atau cacat mental
  2. Kerusakan pada hati
  3. Kerusakan pada ginjal: dapat berupa infeksi ginjal atau gagal ginjal
  4. Kerusakan pada jantung: sering terjadi serangan jantung koroner
  5. HIV/ AIDS: menular dikalangan pemakai narkoba melalui pemakaian jarum suntik bersama, hubungan seks, berciuman dan lain-lain
  6. Hepatitis B dan C
  7. Sifilis: sering menular diantara pemakai narkoba karena kedekatan hubungan pribadi satu pemakai dengan pemakai lainnya sehingga kemungkinan melakukan ciuman dan hubungan intim semakin besar.
  8. Dampak psikologi (kejiwaan)

Pada umumnya, pemakai narkoba menjadi:

  1. Tertutup (pemalu)
  2. Rendah diri
  3. Egois
  4. Jahat (psikosis)
  5. Paranoid (selalu curiga dan bermusuhan)
  6. Sering mengurung diri di kamar
  7. Dampak sosial
    1. Tidak perduli terhadap orang lain (menjadi asosial)
    2. Sering terlibat dalam tindakan kriminal dan kekerasan sehingga merugikan masyarakat

E. Latar Belakang Seseorang Menyalahgunakan Narkoba

  1. Ingin kenikmatan yang cepat
  2. Ketidaktahuan
  3. Alasan internal, yang terdiri dari:
  4. Ingin tahu
  5. Ingin dianggap hebat
  6. Rasa setia kawan
  7. Rasa kecewa, frustasi, kesal
  8. Ingin bebas dari rasa sakit/ pusing
  9. Ingin menikmati rasa gembira, tampil lincah, energik dan mengusir rasa sedih dan malas (pada eksekutif dan selebritis)
  10. Ingin tampil langsing
  11. Takut mengalami rasa sakit (sakaw)
  12. Alasan keluarga: Keluarga tidak harmonis. Konflik di dalam keluarga dapat mendorong anggota keluarga merasa frustasi sehingga terjebak dengan memilih narkoba sebagai solusi.
  13. Alasan orang lain, dapat berupa:
    1. Tipu daya: Narkoba disebut sebagai vitamin, obat, pil pintar, pil sehat atau food suplement.
    2. Bujuk rayu: Untuk memasarkan narkoba, pengedar memilih profesi sebagai wanita penghibur (WTS). Wanita tersebut merayu akan mau melayani kencan kalau bersama-sama mengkonsumsi narkoba terlebih dahulu.
    3. Paksaan: Dipaksa oleh sekawanan atau seseorang yang mengancam akan mencelakainya jika tidak mau mengkonsumsi narkoba.
    4. Jaringan peredaran luas sehingga narkoba mudah didapat
    5. Strategi pemasaran yang jitu oleh sindikat pengedar dan bandar narkoba

F. Upaya Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba

  1. Pembinaan kehidupan beragama, yaitu dengan mengajak pemakai bertobat.
  2. Meningkatkan dukungan dari keluarga untuk memotivasi agar pemakai cepat sembuh.
  3. Berikan nasihat kepadanya untuk berobat ke pusat rehabilitasi Narkoba.
  4. Ajaklah pemakai ikut aktif dalam kegiatan kemasyarakatan yang positif, seperti olahraga, senibudaya atau kegiatan produktif lainnya.
  5. Masyarakat ikut membantu Pemerintah dalam melaporkan bandar Narkoba maupun pengedar.

Istilah Internal/ Kode Rahasia

Perdagangan dan peredaran narkoba adalah aktivitas melanggar hukum. Karenanya, mereka menciptakan kode, sandi atau istilah sendiri agar aktivitasnya tidak diketahui oleh orang luar, termasuk ayah, ibu, saudara atau temannya.

  1. Acid                      : LCD, suatu senyawa sintetik yang tergolong halusinogen
  2. Amper                   : amplop
  3. Badog                   : sekali pakai dalam jumlah banyak
  4. Badai                     : fly akibat penggunaan obat
  5. Barang                   : obat, biasanya putaw
  6. BB atau barbuk     : barang bukti
  7. Black Heart           : salah satu jenis ekstasi
  8. BD                                    : bandar
  9. Bo’at                     : obat

10.  Bokul                    : beli

11.  Bong                     : botol plastik yang dindingnya diberi lubang dan melalui

lubang itu dimasukkan sedotan plastik untuk minuman

12.  Br                          : barang=obat, putaw

13.  Budha stick           : ganja

14.  Butterfly               : salah satu jenis ekstasi

15.  Cimeng                  : ganja

16.  Cucau                    : menggunakan heroin melalui suntikan di urat darah

17.  DUM                     : dumolid, salah satu merek obat tidur

18.  Etep                       : putaw

19.  Fly                         : mabuk, intoksikasi

20.  Gap                       : tertangkap. Ketahuan

21.  Gauw                    : satuan berat, khusus untuk putaw

22.  Gelek                     : ganja

23.  Getrek                   : polisi

24.  Giting                    : intoksikasi, mabuk

25.  High                      : euforia karena intoksikasi

26.  Inex                       : salah satu jenis ekstasi

27.  Insul                      : suntikan, spuit (insulin)

28.  Jackpot                  : muntah

29.  Junkies                  : pecandu narkoba berat

30.  Kendi                    : kena sedikit untuk putaw

31.  Kentang                : kena tanggung untuk shabu-shabu

32.  Kertim                   : kertas timah, tempat membakar putaw untuk disedot

33.  Lexo                      : Lexotan, salah satu merek obat penenang

34.  Linting                  : ukuran jumlah untuk ganja

35.  MG                        : mogadon, salah sato merek obat tidur

36.  Ngedrag                : chasing the dragon / menghirup asap heroin yang dibakar

di atas kertas timah

37.  Ngelem                  : pakai inhalan

38.  Ngive                    : cara suntik lewat pembuluh darah vena

39.  Ngubas                  : memakai shabu

40.  Nipam                   : nama suatu obat tidur

41.  OD                                    : kelebihan dosis

42.  Pakaw                   : sedang pakai putaw

43.  Pedaw                   : orang yang sedang mengalami kenikmatan narkoba

44.  Pil gedek               : ekstasi

45.  Pil anjing               : sedatin, suatu jenis obat tidur

46.  PS                          : pasien

47.  PT                          : putaw

48.  Putaw                    : heroin

49.  Sakaw                   : orang yang sedang menderita kesakitan karena

withdrawal effect (reaksi putus zat)

50.  Spidol                    : alat suntik

SS                                : shabu