A. Pengertian Operasi

Operasi adalah tindakan pembedahan terhadap tubuh pasien untuk menemukan atau memperbaiki kondisi sakit (patologis) seperti penyakit atau luka, sehingga tubuh pasien dapat bekerja lebih baik.

B. Tujuan Operasi

  1. Menyelamatkan jiwa.
  2. Menghilangkan penderitaan.
  3. Memperbaiki kecacatan.

C. Pengertian Anestesi

Istilah anestesi berasal dari bahasa Yunani “an” yang berarti tidak “estesia” yang berarti rasa, sehingga dapat berarti hilangnya rasa atau sensasi. Pemakaian istilah “anestesi” secara teknis pada masa kini berarti “Pengurangan nyeri sewaktu pembedahan”. Pasien yang akan menjalani anestesi dan pembedahan (elektif/darurat) harus dipersiapkan dengan baik. Kunjungan praanestesi pada bedah elektif dilakukan 1-2 hari sebelumnya dan pada bedah darurat sesingkat mungkin. Kunjungan praanestesi bertujuan mempersiapkan mental dan fisis pasien secara optimal, merencanakan dan memilih teknik obat-obat anestetik yang sesuai, serta menentukan klasifikasi yang sesuai berdasarkan klasifikasi American Society of anesthesiologist (ASA).

D. Pemeriksaan Praoperasi Anestesi
Pemeriksaan Anamnesis

  1. Identifikasi pasien yang terdiri dari nama, umur, alamat, pekerjaan, agama, dll.
  2. Keluhan saati ini dan tindakan operasi yang akan dihadapi.
  3. Riwayat penyakit yang sedang/pernah diderita yang dapat menjadi penyulit anestesi seperti alergi, diabetes mellitus, penyakit paru kronis (asma bronkial, pneumonia, dan bronkitis), penyakit jantung (infark miokard, angina pektoris, dan gagal jantung), hipertensi, penyakit hati dan penyakit gagal ginjal.
  4. Riwayat obat-obatan yang meliputi alergi obat, intoleransi obat, dan obat yang sedang digunakan dan dapat menimbulkan interaksi dengan obat anestetik seperti obat antihipertensi, antidiabetik, antibiotik, digitalis, diuretika, obat anti alergi, trankuilizer (obat penenang).
  5. Riwayat anestesi/operasi sebelumnya yang terdiri dari tanggal, jenis pembedahan dan anestesi, komplikasi dan perawatan intensif pascabedah.
  6. Riwayat kebiasaan sehari-hari yang dapat mempengaruhi tindakan anestesi seperti merokok, minum alkohol, obat penenang, narkotik dan muntah.
  7. Riwayat keluarga yang menderita kelainan seperti hipertermia maligna.
  8. Riwayat berdasarkan sistem organ yang meliputi keadaan umum, pernapasan, kardiovaskular, ginjal, gastrointestinal, hematologi, neurologi, endokrin, psikiatrik, ortopedi, dermatologi.
  9. Makanan yang terakhir di makan.

Pemeriksaan Fisik

  1. Tinggi dan berat badan. Untuk memperkirakan dosis obat, terapi, cairan yang diperlukan, serta jumlah urine selama dan sesudah pembedahan.
  2. Frekuensi nadi, tekanan darah, pola dan frekuensi pernafasan, serta suhu tubuh.
  3. Jalan napas (airway). Daerah kepala dan leher piperiksa untuk mengetahui adanya trimus, keadaan gigi geligi, adanya gigi palsu, gangguan fleksi ekstensi leher.
  4. Jantung untuk mengevaluasi kondisi jantung.
  5. Paru-paru untuk melihat adanya dispnu, ronki dan mengi.
  6. Abdomen untuk melihat adanya distensi, massa, asites, hernia.
  7. Ekstremitas, terutama untuk melihat perfusi distal, adanya jari tabuh, sianosis dan infeksi kulit. Untuk melihat ditempat-tempat fungsi vena atau daerah blok saraf regional.
  8. Punggung bila ditemukan adanya deformitas, memar atau infeksi.
  9. Neurologis, misalnya status mental, fungsi saraf cranial, kasadaran dan fungsi sensori motorik.
  10. Kandung kemih dikosongkan dan bila perlu lakukan kateterisasi.
  11. Saluran nafas dibersihkan dari lender.
  12. Jangan memakai lipstik dan pewarna kuku bagi pasien wanita karena akan menyulitkan diagnostik keadaan fisik pada saat menjalani operasi.
  13. Segala macam bentuk perhiasan di telinga, kalung, cincin dan gelang agar dilepas supaya tidak menyulitkan dokter jika terpaksa harus melakukan tindakan khusus penyelamatan jiwa.
  14. Pemeriksaan Laboratorium
    1. Rutin: darah (hemoglobin, leukosit, hitung jenis leukosit, golongan darah, masa pendarahan, dan masa pembekuan), urin (protein, reduksi dan sedimen), foto dada (terutama untuk bedah mayor), elektrokar diografi ( untuk pasien berusia diatas 40 tahun).
    2. Khusus, dilakukan bila terdapat riwayat atau indikasi :
    • Elektrokardiografi pada anak
    • Spirometri dan bionkospirometri pada pasien tumor paru
    • Fungsi hati pada pasien ikterus
    • Fungsi ginjal pada pasien hipertensi

Konsultasi

  1. Konsultasi bedah
  2. Konsultasi anestesi
  3. Dengan sejawat anestesi dan spesialis lain
  4. Mendapat dan memberi informasi tambahan
  5. Menghilangkan kecemasan dan ketakutan pasien
  6. Perlu pemeriksaan tambahan

E. Persiapan Menghadapi Operasi

  1. Siapkan mental supaya dapat menjalani proses operasi dengan baik, pasrah dan tetap berdoa.
  2. Jangan memakai lipstik dan pewarna kuku bagi pasien wanita karena akan menyulitkan diagnostik keadaan fisik pada saat menjalani operasi.
  3. Segala macam bentuk perhiasan di telinga, kalung, cincin dan gelang agar dilepas supaya tidak menyulitkan dokter jika terpaksa harus melakukan tindakan khusus penyelamatan jiwa.
  4. Harus ada anggota keluarga yang menunggu.
  5. Pembersihan dan pengosongan saluran pencernaan untuk mencegah aspirasi isi lambung karena regurgitasi/muntah. Pada operasi elektif, pasien dewasa puasa 6-8 jam namun pada anak cukup 3-5 jam.
  6. Gigi palsu, bulu mata palsu, cincin dan gelang dilepas serta bahan kosmetik (lipstik, cat kuku) dibersihkan sehingga tidak mengganggu pemeriksaan.
  7. Kandung kemih dikosongkan dan bila perlu lakukan kateterisasi.
  8. Saluran nafas dibersihkan dari lendir.
  9. Pembuatan informed consent berupa ijin pembedahan secara tertulis dari pasien atau keluarga.

10.  Pasien masuk kamar operasi mengenakan pakaian khusus (diberi tanda dan label terutama pada bayi).

11.  Pemerikasaan fisik dapat diulang diruang operasi.

12.  Pemberian obat premedikasi secara intramuscular/oral dapat diberikan ½-1 jam sebelum dilakukan induksi      anestesi/beberapa menit bila diberikan secara intravena.

F. Beberapa Instruksi Yang Diberikan Oleh Dokter yaitu :

Puasa bagi orang dewasa minimal 6 jam sebelum operasi mulai, tidak boleh makan dan minum, anak-anak 4 jam sebelum operasi hanya diperkenankan makan cairan atau minum karena tendensi dehidrasi pada anak-anak besar.

  1. Cukur disekitar daerah operasi biasanya dikerjakan oleh perawat atau pasien sendiri.
  2. Penderita tidak diperbolehkan pulang sendiri sehabis operasi, harus ditemani orang yang bertanggung jawab.
  3. Dilarang mengemudikan kendaraan.

G. Persiapan-persiapan Pada Hari Operasi antara lain:

  1. Penderita harus datang 1-2 jam sebelum operasi.
  2. Dilakukan pemeriksaan fisik ulang.
  3. Berikan penerangan apa-apa yang akan dialami nanti, baik pada operasinya tau anestesinya: bagaimana nanti setelah operasi mungkin terasa sakit, mual, muntah-muntah dan sebagainya penderita mempersiapkan diri secara fisik dan mental.
  4. Tak diizinkan memakai alat-alat perhiasan yang akan menyulitkan tindakan dan penilaian-penilaian keadaan waktu anestesi, misal gigi palsu, cat kuku, lipstik.
  5. Pada saat ini berikan premedikasi sesuai dengan keadaan mental dan fisik penderita.

H. Memberikan perhatian kepada pasien

  1. Tentang kembalinya fungsi normal tubuh.
  2. Perubahan fungsi sexual.
  3. Jawab semua pertanyaan secara jujur, lemah lembut dan sabar.
  4. Kontak mata dan sentuhan lembut pada tangan.
  5. Minimal 2x kesempatan bertemu.
  6. Tidak hanya mendidik pasien, tetapi siap berdiskusi mengenal informasi lain yang diterima pasien.

I. Informed Consent (Persetujuan Tindakan Medik)

Secara etimologis Informed Consent berasal dari kata informed yang artinya sudah diberikan informasi atau sudah dijelaskan atau sudah diuraikan dan kata consent yang artinya persetujuan atau izin. Jadi Informed Consent atau Persetujuan Tindakan Medik adalah persetujuan dari pasien atau keluarganya terhadap tindakan medik yang akan dilakukan terhadap dirinya atau keluarganya setelah mendapat penjelasan yang adekuat dari dokter.

Yang Berhak Memberikan Persetujuan

Berpedoman pada Permenkes No 585 tahun 1989 mengenai Persetujuan Tindakan Medik, maka yang berhak memberikan persetujuan atau menandatangani perjanjian adalah pasien yang sudah dewasa (di atas 21 tahun atau sudah menikah) dan dalam keadaan sehat mental. Sedapat mungkin Persetujuan Tindakan Medik ditandatangani sendiri oleh pasien. Namun dalam praktek di lapangan Persetujuan Tindakan Medik lebih sering ditandatangani oleh keluarga pasien. Hal ini berkaitan dengan kesiapan mental pasien untuk menjalani tindakan medik maupun untuk menandatangani Persetujuan Tindakan Medik tersebut. Untuk pasien di bawah umur 21 tahun dan pasien dengan gangguan jiwa maka yang menandatangani Persetujuan Tindakan Medik adalah orang tua atau keluarga terdekat atau walinya. Untuk pasien yang tidak sadar, pingsan atau tidak didampingi oleh keluarga terdekat dan secara medis dalam keadaan gawat darurat dan perlu dilakukan tindakan segera atau yang bersifat menyelamatkan kehidupan tidak diperlukan persetujuan. Dan saksi untuk menjaga kemanan dan kesahihan Persetujuan Tindakan Medik diperlukan saksi dari pihak keluarga maupun dari rumah sakit. Mengenai jumlahnya tidak ada pedoman khusus, namun biasanya ada 2 orang, yaitu satu mewakili pasien dan satu mewakili rumah sakit.