Pada suatu hari ada seorang wanita yang sedang sakit parah meminta kepada seorang pastur untuk menerbitkan buku yang mengkisahkan dirinya mengenai hidupnya yang malang sejak saat perkawinan hingga hari ini. Tujuan Wanita ini untuk membuat buku yang akan dirangkum oleh  pastur tersebut agar hal pahit sepajang hidupnya tidak terjadi pada orang lain.

Pastur pun bergegas meninggalkan rumah wanita ini, tapi penjaga pintu berlari dan memanggil  pastur tersebut agar kembali pada wanita tadi yang sedang mengerang kesakitan. Sementara keluarga wanita ini berusaha menjaga agar tidak jatuh dari ranjang dan melukai dirinya. Pastur mendekatkan salib ke bibir perempuan yang tengah menghadapi ajalnya. Ketika barang kardus itu menyentuh bibir setelah itu dia jadi kaku tidak bergerak lagi. Pada saat itu barulah mereka sadar bahwa wanita itu telah tiada.

10 tahun tlah berlalu sejak meninggalnya wanita itu. Pasturpun menerbitkan buku yang isinya tentang kisah pilu wanita tsb. Berikut adalah kisahnya…

Wanita ini menikah dengan seorang pria yang ia kenal sejak kecil. Keluarganya dan keluargaku hidup berdampingan disebuah apartment yang sama. Keluarganya sangat santun dan saleh, sedangkan keluargaku tidak. Pada awal pernikahan kami dikaruniai seorang anak perempuan yang cantik sekali, kami sangat senang dengan kedatanganya. Yang bisa menghibur kami dalam meniti kehidupan. Akupun dengan menjalani kehidupan ini tidak sepenuhnya sempurna yang meski dipadan khalayal banyak aku senang, disisi lain aku mengalami suatu alur hidup yang sangat memberatkanku. Aku tlah melakukan hal yang dianggap orang adalah tindakan yang teramat bodoh. Demi mempertahankan bentuk tubuhku agar tetap ideal aku mempunyai rencana untuk tidak mempunyai anak lagi. karena temanku bilang jika aku mempunyai banyak anak, nanti tubuhku tidak indah lagi.

Tapi ternyata kenyataan berkata lain, aku hamil dengan tidak adanya perencanaan. Hal ini membuatku kaget dengan bayang-bayang badanku agar berubah bentuk. Maka kuputuskan agar menggurkan kandunganku. Yang lebih tragisnya lagi, aku tidak melakukannya sekali namun aku sudah menggurkan calon bayiku sebanyak enam kali. Pada suatu hari hal buruk mulai kurasakan, aku merasakan sakit yang teramat sangat diperut bagian bawahku. Sang suami tidak pernah curiga tentang apa yang tlah aku lakukan. Hingga suatu malam disaat aku termenung di pinggir jendela aku mendengar suara-suara yang berteriak beramai-ramai memanggil Mama !! suara mereka serak tercekik, halus, bernada misterius dan saling memilukan. Wanita ini tak tau darimana suara itu berasal, hal ini sengaja ia rahasiakan dengan siapapun. Karena ia takut disangka tak waras dan bisa dibawa ke Rs jiwa. Semakin hari suara itu semakin jelas dan suara itu berkata : Mama… Mengapa Tega Membunuh kami ?

Wanita ini kebingungan ingin menceritakan ke siapa hal tersebut, akhirnya ia berjalan ke suatu gereja karena disana ada tempat curhat kepada pastur. Ia menceritakan suara-suara tersebut kepada sang pastur, namun ia belum menceritakan aborsi yang tlah ia lakukan. Sepulangnya dari gereja, wanita ini mengalami ketenangan Dan suara itu pun hilang. Namun hal itu tidak bertahan lama, bebarapa hari kemudian dia mendengar suara itu lagi dengan nada yang menjadi-jadi. Tangisan anak kecil hingga candaan anak kecil selalu dia dengarkan. Yang lebih membuatnya shock, pada saat ia sedang memikirkan hal berat ini ia mendapat kabar kalau Suaminya tertangkap oleh pihak keamanan karena tlah melakukan kesalahan dan langsung di deportasi ke perbatasan negara.

Wanita ini menangis sejadi-jadinya, dan tak lama ia mendengar kabar yang disampaikan oleh teman suaminya bahwa sang suami tlah meninggal dunia. yang tanpa sepengetahuan sang istri, suaminya menderita sakit parah. Akhirnya  wanita ini pergi ke gereja, ia ingin membuat pengakuan dosa disana. Pastur dan perawat di gereja mendengarkannya dengan seksama apa yang akan diceritakan wanita tersebut. Akhirnya wanita itu jujur kalau ia tlah menggurkan bayinya sebanyak enam kali, hal ini membuat kaget sang pastur. Sang pasturpun langsung  meminta agar wanita ini tobat dan tak mengulanginya lagi. Sejak saat itu wanita inipun sering pergi ke gereja dan semakin dekat dengan para perawat gereja. Seiring berjalanya waktu penyakit yang ia derita dulu semakin menggerogoti wanita ini, yang akhirnya bertambah parah. Akhirnya wanita inipun berbaring setiap hari di Rs di kotanya. Sampai akhirnya wanita ini menghabiskan sisa umurnya hingga ia meninggal.

EPILOG

Merasa diri bersalah hingga akhir hidup karena suatu kejahatan memang menyedihkan. Tetapi melakukan suatu kejahatan tanpa takut dan mangangapnya sebagai hal yang lumrah dan wajar, sesunguhnya adalah perangai setan, suatu tanda akan datang kutukan dari Allah..

 

Resensi Novel untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia

Dosen                         : TOTO SUGIHARTO

Judul                          : Mama… Mengapa Tega Membunuh kami ?

Penulis                       : Groria Felix, fsp.

Alih Bahasa              : Theo T.Balella, SVD

Diterbitkan oleh     : Penerbit Buku SABDA

Asem Baris Jaya, Jl.P No.3

Kebon Baru, Tebet – Jakarta 12830