Suatu hari di sebuah rumah sakit di jakarta tepatnya di ruang ICU terbaring gadis kecil umur 13 tahun. Dia tengah di mencoba melawan penyakitnya yang sampai sekarang belum ditemukan obat yang bisa menyembuhkanya secara total. Leukimia, itulah yang di derita saat ni. Si kecil ni adalah anak ke tiga dari tiga bersaudara, ia adalah anak yang periang dan sangat baik kepada semua orang. Di sekolah pun ia terkenal pintar karena sering mendapat rangking di sekolahnya. Si kecil ini sudah menderita leukimia sudah 5 tahun.

 

Adik kecil ini sangat merindukan kakanya yang tlah 4 tahun yang lalu pergi meninggalkan ade kecil ini untuk bekerja di luar negri, yang pastinya untuk biaya adiknya berobat. Karena biaya yang mereka butuhkan tidaklah sedikit. Memang si adik kecil ini masih mempunyai kaka lagi, tapi ia lebih dekat dengan kaka pertamanya. Ayahnya bekerja sebagai karyawan swasta dan ibunya berdagang di rumah. Memang keluarga ini tidak begitu memiliki banyak uang, tapi mereka merasa bahagia dengan keharmonisan keluarga. Hanya saja suatu hari mereka dikejutkan dengan sakit yang ade kecil alami. Tak tahu persis kapan penyakit Leukimia itu muncul, namun yang jelas meraka baru mengetahuinya saat stadium 3.  Bagaikan petir yang menyambar mereka, mereka sontak kaget dengan keadaan yang di alami anak terakhirnya itu.

 

Tapi saran dokter pada waktu itu, selain pengobataan yang dilakukan dukungan untuk si adik sangat diperlukan agar ia tetap semangat menjalani hidupnya. Hari terus berjalan hingga tahun pun berlalu, berkali-kali si adik keluar masuk rumah sakit. Tak ada rambut yang menempel pada si gadis cilik ini. Sampai suatu hari si adik memamanggil kaka pertamanya dan meminta agar ia pulang. 4 hari ia menunggu akhirnya kakanya sampai di ruang Icu saat itu. Yang dimana saya juga berada di rumah sakit itu. Saat kakanya datang si adik melarang kakanya untuk menitihkan air mata. Kondisi gadis kecil ini sudah sangat kritis. Di tengah kesibukan para dokter dan perawat untuk menolongnya, Gadis kecil ini meminta untuk berhenti dan ia meminta agar keluarga untuk menghampirinya. Saat itu si adik memberikan sebuah burung dari kertas yang ia buat, burung ini ia berikan kepada kakanya yang baru datang dan ia berkata “ ka,, adik seneng deh kaka datang. Ka, ade akhirnya bisa buat burung yang kaka ajari buat dulu. Simpan ya ka burung ini dan ade mau minta maaf sama kaka karena tlah merepotkan kaka. Kalau ade sudah bersama Allah, ade mau bilang supaya kaka diberi kebahagiaan” semua orang yang berada di ruangan itu meneteskan air mata bahkan saya juga. Tapi tetap saja Adik ni meminta tidak boleh ada yang menangis. Adik ni meminta kaka pertamanya memeluknya dengan Burung kertas yang mereka pegang. Dengan itu pula nafas si Adik berhenti untuk selama…….

 

Ni adalah kisah nyata yang saya alami beberapa waktu lalu saat berada di rumah sakit, semoga ini menjadi pelajaraan penting untuk kita semua. Kasih sayang yang tulus akan memberi suatu kisah terindah yang tak akan terlupakaan seumur hidup kita…

 

 



Iklan